When Carra Choose Her Maid Over Me

Harusnya gue bersyukur.
Bibi pengganti Arini ini sangaaaatt sayang sama anak anak gue. Sayangnya bener bener sayang. Semua anak anak gue dipuji, diajak berkata lembut, sabaaarr, diperlakukan layaknya cucunya sendiri. Iya bibi gue memang sudah berumur dan sudah punya cucu di kampung jadi dia menganggap anak anak gue kayak cucunya itu.

Lalu sehari hari pun Bagol lebih fokus sama Adia. Mengantar dan menjemput Adia sehingga di rumah pun Carra lebih banyak menghabiskan waktu sama si Bibi. Nggak kayak Adia dimana dari dulu  Bagol selalu ada untuknya sehingga dia nggak terlalu 'attach' sama bibi yang datang dan pergi, Carra ini attach banget. Main sama bibi, tidur siang sama bibi, minum susu sama bibi, hampir semua kegiatannya sama bibi.

Ketika Carra mendapati gue sedang berlatih piano sama Adia misalnya dan Bagol sedang sibuk, maka dia akan dengan mudahnya berlari ke bibi. Bibi pun akan dengan senang hati merengkuhnya. Serba salah juga, satu sisi gue sedang memperhatikan Adia, namun Carra juga ingin perhatian full :D ini salah satu tantangan punya anak dua ternyata.

Sampai kira kira dua bulan yang lalu, saat gue sama Bagol sedang gencar gencarnya memberikan sugesti positif bahwa Carra sudah mau dua tahun dan harusnya berhenti nenen... Carra mulai menunjukkan perilaku tidak biasa.

Dia nggak mau tidur sama gue.

Gue tawarin nenen (sebagai satu satunya senjata terampuh bonding gue sama dia), ditolak. Dia bener bener maunya sama Bibi. Rasa patah hati, malu, maupun ngantuk memuncak saat gue merebut paksa Carra dari gendongan tangan bibi. Berfikir gue adalah ibunya dan harusnya dia sama gue. Jangan bayangkan perasaan gue saat itu... sampe sekarang aja gue  nggak mau ngebayanginnya lagi.

Rasanya frustasi lihat Carra berontak dan menangis begitu kerasnya ketika gue gendong dan meneriakkan nama Bibinya seakan nggak setuju kalo gue adalah ibunya...

Segala cara gue tempuh. Gue peluk, gue bacakan cerita, gue ajak main sampai Adia datang dari kamarnya dan menghibur Carra tapi Carra tetap menangis pilu tersedu sedu. Dia tetap nggak mau sama gue. Sampai akhirnya dia ketiduran sendiri karna capek menangis.
Gue nggak bisa tidur malam itu. Aneh memang, ketika jadi ibu banyak sekali hal yang bisa bikin kita nggak bisa tidur, bahkan pikiran remeh temeh macam kayak gini.

Pikiran gue bukan ibu yang baik, gue nggak bisa ngurus Carra dengan benar, apa yang salah dari gue, gue harus apa saat ini,  dan sebagainya.

Bagol cuma bilang,
"Harusnya kamu nggak ngerebut Carra kayak gitu dari tangan bibi."
Anehnya nasihat dia hanya bikin gue tambah terkucil. Walau gue tau itu betul.

Besoknya Carra tetap mau tidur sama bibi. Besoknya pula gue nggak merebut dia , gue seperti menahan diri nggak mau menunjukkan lagi bahwa gue ibunya. Sedih memang ternyata jadi ibu ya.
Karna gue seakan diberitahu bahwa Carra itu bukan punya gue, dia adalah manusia kecil yg juga punya pilihan dia mau sama siapa dan gue nggak bisa memaksakan kehendak dia.
Dan ternyata perilaku gue tepat, setelah puas capek bermain dia kembali ke kamar gue dan bilang ngantuk mau bobo sama ibu. That words just made my whole day. Maybe my whole year as a mother.

Besoknya pula gue dan Bagol nggak lagi kasih sugesti bahwa Carra harus berhenti menyusui segera. Dia bisa berhenti kapanpun dia mau dan gue nggak bisa memaksakan hal itu.

Perlahan lahan gue juga mengurangi waktu pegang gadget gue saat ada mereka, lebih rajin memeluk, mencium, mendengarkan dan memberikan waktu. Termasuk mensyukuri setiap menit Carra menyusu. Gue nggak tau kapan akah menyapih tapi sepertinya tidak dalam waktu yang dekat.

I know im not a perfect mom but i love my kids more than my life it self so i know it should be like this.

When you read this someday, Carra,
You'll know i'll support every choices you'll make eventhough i dont fully agree about it.
So just be brave, hope i can guide you the right path to become a happy wise useful human can be.

3 komentar:

Instagram