My April Turbulance

This April was not an easy month for me, yet it also given me one of the amazing time of the year.

Aneh, ya?

Minggu pertama dibuka dengan meninggalnya sahabat gue yang sudah gue tulis di post sebelum ini. Semuanya begitu mendadak dan menyisakan sesal karna sebulan terakhir janjian terus tapi nggak pernah bisa ketemu. Masih sakit, masih mewek mewek, masih sedih kadang sampai migren, bener bener berusaha keras untuk 'let go'. But i can't...
Kepergian Abner bener bener meninggalkan sebuah lubang kecil dalam hati gue yang kayaknya susah untuk tertutup dalam waktu yang cukup lama.

Minggu kedua gue dikejutkan dengan sebuah keberuntungan yaitu mendapatkan award 'Best Treasury Staff'. Kenapa gue bilang keberuntungan adalah.. banyak orang lain lebih pinter... lebih efektif... lebih apapun diatas gue namun yang disorot malah gue 😑
Sesuka sukanya gue sama sorotan (yaelah 😆), hal ini juga sempat membuat gue nggak nyaman, karna gue nggak mau hal ini malah membuat gue jadi cepat puas atau sebaliknya, takut banyak orang yang negatif bertanya kenapa harus gue. Tapi  setelah gue pikir lagi, kita, manusia, nggak pernah bisa yang namanya mengontrol pikiran orang, jadi ya udahlah just embrace the moment. Toh teman teman gue di kantor pada baik banget dan memberi semangat. Pun boss boss gue juga akhirnya tetap memberi tekanan seperti "Ayookk best staff udah achieve belom bulan ini??" >> hal begini begini neeehhh kan gue jadinya malah tambah stress 😂😂

Hadiah dari Best Treasury Staff ini adalah sebuah Gala Dinner, pemberian plakat dan piala layaknya gue menang piala Oscar di sebuah hotel berbintang #hazeg. Puncaknya adalah gue mendapatkan hadiah jalan jalan ke Hongkong bersama pemenang lainnya, selama 5 hari 4 malam, TANPA MEMOTONG CUTI. WOOHOOO. Rasanya enak banget ternyata liburan dibayarin lalu nggak potong cuti (ke New Zealand 2 minggu kek gitu yaaaa #ngelunjak)


Sewaktu menerima penghargaan , di tempat duduknya ada tulisan nama gue! haha.
seumur umur baru sekali liat beginian nih :D
Masih merinding rasanya bacanya tulisan kayak begini. I really feel that i don't deserve this 

Tapi yaudahlah seneng seneng aja, la wong udah kepilih 😆😆


Berangkat ke malam penghargaan di Hotel Mulia sendirian #ciyan

With my Director. Lebih kayak bapak sendiri di kantor, kadang sebel sama ke -detail-an beliau, juga gemes  kalo diajak ngomong bahasa inggris terus dia benerin pronounciation gua mulu bakakakakak, tapi seringnya happy bisa ada ada di bawah bimbingannya, because he's one of fair and humble boss that i have ever met 💗 

Sebelah kiri boss gue yang gaul, sebelah kanan boss gue yang old school (pilih mana hayoo 😝)

Minggu ketiga gue habiskan di Hongkong. Full satu minggu dijamu dan dimanjakan oleh hadiah ini.
Sebagai satu satunya orang yang dateng dari sebuah direktorat, gue awalnya agak malas pergi. Pergi liburan nggak sama keluarga atau teman dekat dan malahan sama 130 orang asing dari direktorat lain bener bener bikin jadi insecure duluan. Seandainya bisa gue ubah hadiah ini jadi uang mungkin udah gue tuker tapi sayangnya nggak bisa , gue bahkan belum berkemas untuk pergi sampai di malam sebelum gue berangkat 😳
Tapi Bagol menyemangati gue. Kapan lagi liburan tanpa harus pusing mikirin itinerary, semuanya udah diaturin gue tinggal duduk manis. Nggak keluar duit apa apa pula, santai seminggu nggak mikirin kerjaan. Bener jugak. Yaudah dah oke gue pergi #CepetAmat




Cerita Hongkong kayaknya akan gue buat di satu blogpost setelah ini ya yang ternyata gue HAPPY BANGET DISANA. Ketemu banyaaak banget temen baru dan akhirnya membentuk geng sendiri #najis hahaha. My Mind and soul was fulfilled  back there, apart of i missed my kids and husband a lot, i am happy, and content 😊 Thank you Allah.

Minggu ke 4 ditutup oleh hilangnya handphone gue di kereta. Again, tas gue, yang gue kira firm dan kuat, disilet dari samping dan HP yang sudah bersama gue setahun lamanya diambil.
Hal itu sempet bikin gue ling lung seharian. Linglung, parno, marah, bingung. Bahkan selama 4 hari ke depan gue jadi takut naik kereta dan minta jemput Bagol melulu atau naik taksi.
Ini sudah ke 4 kalinya barang gue kecolongan di kereta, dan entah gue kurang waspada atau apa, tapi satu hal yang pasti. transportasi umum di Jakarta itu TIDAK AMAN. Kalo sudah kayak gini gue bisa bergantung ke siapa? ke pihak berwajib kah? nggak mungkin juga bisa ketemu gue yakin 1000%.

Pengeeen banget rasanya gue terus menyalahkan keadaan. Kenapa gue begini dan begitu. Tapi gue tau lah itu cemen. So again, i just let the time heal...
Berserah sama Allah. DIA yang ngasih semua senengnya gue, sedihnya gue, hampanya gue.

Bulan April ini seakan menjadi pengingat bahwa gue harus terus bersyukur sama Sang Maha Pengasih. Bersyukur dengan segala hati yang senang. Tapi yang lebih penting lagi, bersyukur sama setiap kehilangan, walau nggak mudah memang, but that's life. We have to keep on moving to keep it balance.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram